TASAWUF SUNNI

A. Aliran Tasawuf Sunni
Tasawuf sunni merupakan aliran tasawuf yang ajarannya berusaha memadukan aspek syari’ah dan hakikat namun diberi interpertasi dan metode baru yang belum dikenal pada masa salaf as-shalihin dan lebih mementingkan cara-cara mendekatkan diri kepada Allah serta bagaimana cara menjauhkan diri dari semua hal yang dapat menggangu kekhusyu’an jalannya ibadah yang mereka lakukan. Aliran tasawuf ini memiliki ciri yang paling utama yaitu kekuatan dan kekhusyu’annya beribadah kepada Allah, dzikrullah serta konsekuen dan juga konsisten dalam sikap walaupun mereka diserang dengan segala godaan kehidupan duniawi.
Dari awal prosesnya, corak tasawuf ini muncul dikarenakan ketegangan-ketegangan dikalangan sufi, baik yang bersifat internal maupun eksternal yaitu para sufi dan ulama’ zahir baik para fuqaha maupun mutakallimin. Hal itu menyebabkan citra tasawuf menjadi jelek dimata umat, maka sebagian tokoh sufi melakukan usaha-usaha untuk mengmbalikan citra tasawuf. Usaha ini memperoleh kesempurnaan ditangan Ghozali, yang kemudian melahirkan Tasawuf Sunni.

KESENIAN TAYUB KABUPATEN NGANJUK

Kabupaten Nganjuk merupakan kabupaten kecil yang berada di Propinsi Jawa Timur. Kabupaten ini berbatasan dengan kabupaten Bojonegoro disebelah utara Madiun disebelah barat, dengan kabupaten Jombang disebelah timur dan kabupaten Kediri disebelah selatan.
Nganjuk dahulunya dikenal dengan nama Anjuk Ladang yang dalam bahasa berarti kemenangan. Nganjuk berada dilintasi jalur utama Surabaya-Yogyakarta, serta menjadi persimpangan dengan jalur menuju Kediri.
Nganjuk terletak di dataran rendah lereng gunung wilis yang mengakibatkan kabupaten Nganjuk dikenal sangat berangin dan sering disebut dengan julukan kota angin. Dan di kabupaten inilah terletak sebuah padepokan kesenian tradisional yaitu padepokan kesenian tayub, yang lebih jelasnya berada di desa Ngrajek kecamatan Tanjunganom kabupaten Nganjuk.


Ungu – Tercipta Untukku

menatap indahnya senyuman diwajahmu

membuat ku terdiam dan terpaku

mengerti akan hadirnya cinta terindah

saat kau peluk mesra tubuhku

banyak kata

yang tak mampu kuungkapkan

kepada dirimu

“ILMU TUK DI AMALKAN”

Berfikir adalah suatu kegiatan yag sebaiknya terus dilatih agar otak selalu dapat berfikir cerdas. Dalam masalah ini bagaimana kita meman fatkan kecedasan berfikir kita agar maslahat bagi umat manusia. Tak bisa dipungkiri bahwa banyak orang memanfaatkan kecerdasannya untuk mendulang kebahagiaannya bagi dirinya sendiri dan tidak menghiraukan kesusahan orang lain disekitarnya. Janganlah merasa bangga dengan kebahagiaanmu jika orang-orang disekitarmu belum pernah merasakan kebahagiaan.
Kita seharusnya dapat memanfaatkan kecerdasan kita untuk membahagiakan orang lain. Bagikan ilmu yang kita miliki walaupun sekecil apapun itu. Karena suatu saat nanti ilmu yang kau berikan akan berrmanfaat bagi yang memiliki. Apakah guna semua ilmu yang kita miliki jika hayat sudah tidak dikandung badan? Semua itu tak ada gunanya, kecuali kita wariskan kepada para penerus bangsa.

“Ilmu tanpa amalan bagaikan pohon tak berbuah”

Inilah sebuah kata mutiara yang begitu bermakna. Bahwasanya manusia yang memiliki banyak ilmu akan tetapi tidak dia ajarkan kepada orang lain. Semua ilmu yang telah dia pelajari terasa sia-sia tanpa guna. Betapa meruginya orang-orang yang berilmu akan tetapi tidak mengajarkannya. Padahal Ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amal yang tak akan pernah terputus walaupun orang yang mengamalkan ilmu tersebut telah tiada. Begitulah Rasulullah SAW menjelaskan dalam haditsnya.