Aksiologi Ilmu Pengetahuan

Penertian Aksiologi
Aksiologi berasal dari kata bahasa Yunani axios yang berarti nilai atau sesuatu yang berharga dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah “teori tentang nilai”. Sedangkan arti sosiologi yang terdapat di dalam bukunya Jujun S. Suriasumantri Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.


Dasar-Dasar Aksiologi Ilmu Pengetahuan
Seorang ilmuwan harus bebas dalam menentukan topiknya penelitiannya, bebas dalam melakukan eksperimen-eksperimen. Kebebasan inilah yang akan dapat mengukur kualitas kemampuannya. Ketika seorang ilmuwan bekerja dia hanya tertuju pada proses kerja ilmiahnya dan tujuan agar penelitian berhasil dengan baik. Nilai objektif hanya menjadi tujuan utamanya, dia tidak mau terikat dengan nilai subyektif, seperti nilai-nilai dalam masyarakat, nilai agama, nilai adat, dan sebagainya. Bagi seorang ilmuwan kegiatan ilmiahnya dengan kebenaran ilmiahnya adalah sangat penting.
  
Ilmu Sebagai Asas Berpikir
Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Berpikir adalah sebagai differentia yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya, yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya.
Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia, sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi.

Ilmu Sebagai Asas Moral
Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. Pada tahap kontemplasi, masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan, sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan, maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan. Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi, ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral.
Kelompok pertama, memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral, bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Sedangkan kelompok kedua, berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan.
Etika atau moral menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia. Sebagaimana dikemukakan, fisuf Jerman, Imanuel Kant, penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya, tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain.

Tanggungjawab Ilmuan Muslim Modern
Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom, tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Tanggungjawab etis, merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggungjawab pada kepentingan umum, kepentingan pada generasi mendatang, dan bersifat universal . Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia.
Di bidang etika tanggung jawab social seorang ilmuwan bukan lagi memberikan informasi namun memberikan contoh. Dia harus tampil di depan bagaimana harus bersikap objektif, terbuka, menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggapnya benar, dan kalau perlu berani mengakui kesalahan.semua sifat ini merupakan implikasi etis dari proses penemuan kebenaran secara ilmiah. Di segenap situasi di mana segenap nilai mengalami kegoncangan maka seorang ilmuwan harus tampil di depan. Pengetahuaan yang dimilikinya merupakan kekuatan yang akan memberinya keberanian. Demikian juga dalam masyarakat yang sedang membangun maka dia harus bersikap sebagai seorang pendidik dengan memberikan susi teladan.
Menurut Jujun S.Sumantri dalam Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, tanggung jawab sosial ilmuwan meliputi antara lain kepekaan/kepedulian terhadap masalah-masalah sosial di masyarakat, imperatf, memberikan perspektif yang benar terhadap sesuatu hal untung dan ruginya, baik dan buruknya; sehingga penyelesaian yang objektif dapat dimungkinkan, bertindak persuasif dan argumentatif (berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya), meramalkan apa yang akan terjadi ke depan, menemukan alternatif dari objek permasalahan yang sedang menjadi pusat perhatian, memberitahukan kekeliruan cara berfikir, menegakkan/menjunjung tinggi nilai kebenaran (universal) melalui kegiatan intelektual dan memberi contoh.

1 comments:

Untuk melengkapi informasi di atas bisa dilihat pada site :
http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/2449/1/046.pdf

Poskan Komentar